Jangan Paksa Anak Khitan Jika Tak Siap

Blogger di www.afifahafra.net

Usai lebaran kemarin, Rama (9 tahun) dikhitan. Alhamdulillah, proses berjalan lancar. Rama tidak menangis, bahkan dia sempat tertawa-tawa saat dikhitan oleh ayahnya sendiri, dr. Ahmad Supriyanto. Sambil sang ayah sibuk memasang alisklamp, dia main game kesukaannya di tablet. Dia malah kaget ketika sang ayah membelai rambutnya sambil berkata, "Selesai! Selamat ya, kamu tidak menangis!" Dia kaget karena ternyata proses khitannya berlangsung sangat cepat, hanya sekitar sepuluh menit.

Tidak semua pasien khitan dr. Ahmad setenang Rama. Kami sering menemui pasien yang pakai acara menangis guling-guling, menjerit-jerit, bahkan kabur dari ruang khitan. Padahal, pelaksanaan khitan dengan metode alis klamp sebenarnya relatif tidak sakit. Paling-paling hanya terasa sedikit perih saat disuntik bius. Setelah itu, proses pengerjaan tidak menimbulkan rasa sakit. Apa saja trik agar anak bisa tenang saat dikhitan? Ada beberapa trik yang bisa dilakukan.

Jangan Paksa Anak

Ternyata, banyak anak yang khitan karena dipaksa oleh orang tuanya. Misal, karena ayah merasa si anak sudah cukup besar, sudah saatnya dikhitan. Sebaiknya, khitan dilakukan karena permintaan anak sendiri. Jangan beri motivasi negatif semacam mengejek, "Alaah kamu ini, sudah besar nggak berani khitan. Penakuuut! Cemeen!"

Beri Motivasi Positif

Sebaliknya, motivasi positif sangat dibutuhkan agar anak siap dengan sendirinya. Misalnya, kita memberi pengertian tentang manfaat khitan dari sudut kesehatan, dan juga dari tinjauan agama. Katakan kepada anak kita, bahwa khitan adalah sebuah kemuliaan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. "Pahalanya besar, lho Nak!" mungkin itu kalimat yang kita ucapkan berulang-ulang, sambil membelai lembut rambutnya. Bagus juga jika si anak dimotivasi dengan hadiah. Tetapi, sebaiknya hadiah yang mendidik.

Kondisikan Jauh-jauh Hari

Dibutuhkan waktu kira-kira dua tahun untuk mengondisikan psikis Rama. Jadi, sejak dia masuk SD, bahkan sejak TK, Rama sudah diberi pemahaman tentang khitan. Bagaimana proses khitan itu, apa saja yang akan dialami, serta terus memotivasinya tanpa lelah, sampai akhirnya dia minta sendiri kepada ayahnya untuk dikhitan. Itu pun, sang ayah tidak langsung mengiyakan, tetapi berkali-kali meminta persetujuan. "Benar nih, sudah siap?" Tentu saja di sisi lain, motivasi tetap diberikan. Barulah ketika dia memang sudah benar-benar yakin, proses khitan pun dilakukan.

Sebaiknya Sudah Cukup Umur

Cukup umur di sini relatif, alias tak ada panduan yang pasti. Tetapi, kita bisa mendeteksi dari bagaimana kesiapan anak, dan kemampuan untuk menahan rasa sakit. Anak-anak usia 9-10 tahun, tentu lebih mampu menahan rasa sakit dibanding anak-anak usia di bawah itu. Dalam hal ini, orang tua tentu tahu lebih banyak tentang kondisi si anak.

Intinya, jangan pernah memaksa anak untuk khitan jika belum siap. Tetapi, jangan pula dibiarkan anak terus-menerus tidak siap. Motivasilah mereka jauh-jauh hari.

AFIFAH AFRA: Penulis ialah seorang Mom Blogger, Penulis dan Penyuka Travelling. Saat ini sedang asyik berkebun. Silahkan kunjungi blognya jika ingin berkenalan lebih lanjut BLOG AFIFAH AFRA
SHARE

SOLO KHITAN CENTER

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

  1. Ingat, jangan paksa anak khitan jika memang belum siap sepenuhnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas sumbangan artikelnya :-)

      Hapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    BalasHapus

Terimakasih atas komentar Anda